Bagaimana tidak, apabila hujan mengguyur, sekejap lingkungan kami terendam banjir. Memang lingkungan rumahku kumuh dan merupakan daerah rawan banjir. Tapi dulu tidak seperti itu! Dahulu, sebelum gedung-gedung pencakar langit itu berdiri tegak, kami jarang sekali terkena banjir besar. Belum lagi kau pagari kali dengan tembok setinggi 5 meter lebih, agar luapan air tidak mengalir ke wilayah elit itu. Sekarang, hujan sebentar saja sudah mengenangi rumah kami. Seperti banjir lima tahunan, kami tidak perlu menunggu lima tahun untuk mengalami derita itu, tahun-tahun biasa pun, banjirnya tetap sama, berbeda sebelum bangunan itu berdiri tegak! Hari ini saja, ketinggian air di lingkunganku mencapai 1.9 meter (seleher orang dewasa)!

Dahulu, masih terekam jelas dibenakku, banyak sekali lahan luas, dua lapangan sepak bola, kebun dan sawah, yang menjadi kawasan peresapan air. Kini, semua berubah, tanah-tanah merah tempat kami berpijak, sudah menjadi beton-beton bangunan. Sejengkal tanah kali pun, kau urug untuk memperluas wilayah jajahan kau. Percuma! Ya, percuma, pemerintah selalu menggalakkan program ‘bio pori’ sebagai lubang peresapan air, yang tentunya akan mengurangi dampak banjir. Tapi buat apa! Seberapa besar apakah, diameter sebuah bio pori yang terbuat dari bambu atau peralon? Realita-nya tanah lapang, ratusan hektar dijadikan kawasan real estate, apartemen megah dan mall yang mewah.
Kemarin, tepat hari kemerdekaan 17 Agustus, rumah kami pun terendam banjir. Di hari, selayaknya kami berbahagia, mengangkat tangan ke arah kening, sambil mengumandangkan lagu Indonesia Raya, malah menjadi hari yang sangat ironis bagi kami. Banjir mengenangi rumah kami, kami terkungkung, dikelilingi air yang keruh, tanpa bantuan.

Apakah hanya banjir air keruh saja yang kami terima? Tidak! Setiap pasca banjir, kami selalu membersihkan lumpur-lumpur yang melekat pada tembok dan lantai rumah kami. Air kami pun ikut tercemar. Bahkan, banjir kali ini (14/09) sangat tragis sekali, sebab banyak tetanggaku yang mudik ke kampung, pintu rumahnya terkunci, sedangkan air itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Bayangkan! kasur empuk yang sering mereka tiduri kini tidak bisa terpakai lagi, karena sudah kotor. Kulkas dan barang-barang elektronik lainnya, mungkin sudah di daftarkan ke tukang loak untuk di jual per kilo, sebab sudah tidak dapat dipergunakan kembali.
Aku memang masih anak bau kencur, anak baru gede, kuliah pun belum lulus, tapi setidaknya tolong perhatikanlah lingkungan sekitar Anda, Wahai Pemilik Modal! Sebelum mendirikan bangunan, verifikasi terlebih dahulu Analisis dan Dampak Lingkungannya. Apakah menggangu ekosistem, lingkungan hidup atau tidak.
Tidak perlu para profesor untuk menganalisis itu, anak kecil dan nenek-nenek tua pun tahu, luapan air kali, tidak bisa masuk ke wilayahmu karena kau batasi dengan tembok yang menjulang tinggi! Sehingga luapan air yang seharusnya terbagi rata antara wilayah Kemang dan Cipete, kini dilimpahkan ke wilayah kami! Puluhan hektar yang dahulu menjadi wilayah resapan air, kini menjadi wilayah resapan rupiah! Ironis? Memang!

Sejak lama, aku ingin berteriak di toa-toa (pengeras suara) Mushollah, meneriakkan, panji-panji kemerdekaan yang telah terinjak-injak. Tapi, aku merasa belum yakin, karena aku hanyalah anak bau kencur dan tidak memiliki pendamping yang kuat. Aku mohon! Aku mohon! Para kompasianer, para blogger, para petinggi, para jurnalis, para aparatur pemerintah, para pemilik modal yang membaca tulisan ini! Bantulah kami, perjuangkanlah hak kami.

Rumahku, berada di keluarah Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepat di samping kami, berdiri tegak kawasan mewah nan megah, “kem-ang pileg”. Mungkin mereka akan tertawa melihat kami yang sedang menderita, dari atas gedung yang menjulang tinggi itu.
Cipete Utara, 14 September
Farabi Ferdiansyah

