Blog Kita dalam Massa

Farabi Ferdiansyah
Pegiat ilmu komunikasi praktis. Tertarik dengan dunia kreatif, sastra, jurnalistik, fotografi dan broadcasting!

Senin, 15 November 2010

Rintihan Anak Bau Kencur (#2)




Sabar! Akh..., sampai kapan aku harus bersabar? Kali ini kesabaran ku ini sudah sampai titik klimaks. Ibuku pun sampai menitikkan air matanya, melihat fenomena yang sudah tidak wajar ini. “Untung kamu udah pulang, coba kalau kamu belum pulang, siapa coba yang mau bantuin Mamah?! Ya Allah!” ucapnya, lirih.
Kejadiannya begitu cepat, hanya hujan sebentar saja, banjir langsung meluap, layaknya datang air bah. Sekejap, 3 RT tergenang banjir. Banjir di didepan rumahku sudah se-dada orang dewasa. Bagaimana kedalaman di bantaran kali? Pastinya sudah 2meter lebih. Beruntung, kakekku datang ke rumah, membantu kami berberes mengangkat kulkas, tv, mesin cuci dan barang elektronik lainnya. Sebenarnya aku tidak tega melihat kakekku yang sudah berusia sepuh itu mengangkat beban yang sangat berat. Namun siapa lagi yang dapat membantuku? Orang-orang di sekitarku pun juga panik, malahan kondisinya lebih parah keadaannya. Suami, dan anak lelaki mereka belum pulang bekerja atau sekolah. Ya, kejadiannya di hari dan waktu jam bekerja, jarang kaum adam yang ada dirumah.



Saat aku keluar rumah, untuk membeli persediaan makanan pun, banyak tetangga yang meminta bantuan, untuk mengangkat barang-barang elektronik. Satu rumah selesai, berjalan beberapa langkah, sudah ada yang meminta bantuan lagi. Semua Barang-barang harus diselamatkan, jika tidak, tentunya sangat menghambat mobilitas kami. Motor yang mogok, kasur ber-sprei lumpur, para karyawan tidak bisa bekerja (bahkan dapat terancam di pecat), para pelajar tidak bisa sekolah, buku-buku asupan gizi dan nutrisi otak mereka hanyut terendam. Belum lagi penyakit yang ditimbulkan, banjir kemarin saja, belasan orang dirawat di rumah sakit terkena Demam Berdarah (DB), termasuk aku. Layaknya kasus Century, banjir di wilayahku ini juga berdampak sistemik. Di sisi lain, dari ketinggian apartemen Kemang Pileg, “mereka” terhibur dengan keadaan kami.





Semakin sore, air semakin meluap, bangku/kayu yang menjadi penopang barang-barang elektronik jomplang/hanyut karena kapasitas air yang semakin tinggi. Sempat ibuku panik mencariku, saat aku membantu rumah tetangga. Beliau panik karena landasan penopang barang elektronik sudah goyah, dan harus ditaruh di tempat yang lebih tinggi. Aku dan kakekku kembali berjibaku dengan beban yang berat. Aku mencari batu besar atau benda yang berat, untuk membebani penopang, agar tidak goyah dan terbalik. Bahkan rumah Zawik, tetanggaku, kulkasnya terbalik, dan tergenang di air. Mushola, yang dahulu dijadikan tempat mengungsi pun, telah terendam air.



Aku pun heran dengan masyarakat di wilayahku sendiri. Mengapa mereka diam saja? Apakah mereka menikmati kejadian ini? Padahal ini sudah di luar kewajaran otak yang normal. Biasanya banjir besar melanda (lebih dari 2meter) minimal 5 tahun sekali. Mau demo, ah..., tapi hanya di mulut saja. Aku yakin, tembok tinggi, penghalang luapan air kali Krukut itu, tidak hanya berdampak bagi wilyahku saja, melainkan wilayah di sepanjang kali Krukut. Namun, aku yakin mereka tidak tahu hal ini (adanya tembok penghalang luapan air kali Krukut ke wilayah Kemang dan pembabatan daerah resapan air). Masyarakat wilayahku dan pemerintah tahu akan hal ini, tapi mengapa mereka diam saja. Apa suara kritis mereka sudah tersumpal uang haram? Mereka tahu tapi diam, sama saja meng-amini pembunuhan berantai, korupsi berjamaah atau kejahatan kriminal lainnya. Sekali lagi aku masih sangat bingung, mengapa real estate itu memiliki izin analisis dampak lingkungan (AMDAL), padahal jelas wilayah kami semakin tercemar dengan sampah dan penyakit.



Menunggu!? Menunggu realisasi pelebaran kali Krukut! Yah, seperti mencari mata air di tengah padang pasir. Belum survei, pembebasan lahan yang tak kunjung sepakat, lelang proyek, mendatangankan alat berat dan materi lainnya. Masih lama kawan, keburu banyak orang yang stress dan bunuh diri karena hal ini. Keburu banyak orang yang terkena penyakit dan mati merana.
Magrib menjelang, namun hujan tak kunjung reda, dan kapasitas air semakin meluap. Aku putuskan untuk mandi dan menunaikan Solat Magrib. Saat air mengguyur tubuhku, aku teringat, kejadian ironis ini belum aku abadikan. Dari tadi aku ingin mengabadikan dan mem-publish moment ini, namun aku masih sibuk menyelamatkan barang-barang di rumah. Banyak moment ironis yang aku lewatkan, nenek-nenek di taruh di dalam bak, dibawa ke tempat yang lebih tinggi untuk mengungsi, motor-motor terendam dan moment penting lainnya. Namun, aku sengaja tidak memotret, sebab masih banyak tetanggaku yang harus di bantu, aku pun mengalahkan insting jurnalisku untuk sebuah nilai humanisme, yang menurutku patut dijunjung tinggi. Belum usai mandi, aku mengambil kameraku, dan ingin menceburkan diri lagi ke dalam air keruh. Saat itu, hujan masih turun. Aku ragu untuk memotret, takut kameraku rusak, karena aku yakin tidak mampu membeli yang baru.



“Akh, jangan pikirkan! lo motret bukan untuk dipajang, tapi untuk membangkitkan rasa kepedulian terhadap sesama. Dengan adanya foto/gambar visual, emosi sesorang mudah tersentuh! Ini untuk menggebrak masyarakat lo, untuk bangun dan bergerak! Apalagi ini mendekati tanggal 28 Oktober, hari Sumpah Pemuda! Seharusnya mereka sadar, bersatu dan bergerak bersama!” ucap hati kecilku, yang haus akan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Aku tidak berfikir panjang, langsung terjun ke pelosok yang mampu aku jamah. Dinginnya cuaca membuat gigiku gemeretak, sangat menggangu. Berkali-kali aku tidak fokus dalam mengambil gambar karena tubuhku yang menggigil dengan bunyi gemeretak gigi yang mengusik. Aku pun rela kameraku rusak, tubuhku menggigil dan terkena kuman penyakit, hanya untuk membangkitkan rasa kemanusiaan yang sudah tidak dimanusiakan. Lalu, hei Manusia, apakah kita hanya diam saja!?

Minggu, 14 November 2010

Kemustajaban Doa




Telah aku torehkan dalam tulisan sebelumnya, lihat: http://worldabhie.blogspot.com/2010/05/doa-adalah-mata-pedang.html . Ya, banyak hal spiritualitas mengenai doa yang kualami, --mungkin banyak orang yang tidak meyakini hal-hal yang abstrak, namun bagi orang yang mencoba untuk beriman, tentunya akan percaya.

Hal yang baru aku alami adalah, hilangnya STNK si Jambul, motor kesayanganku. Saat keluar kampus, aku memasukkan STNK ke dalam kantong celana di sebelah kiri, setelah itu aku langsung meluncur ke Goethe Haus, Pusat Kebudayaan Jerman, untuk bertugas di sana dalam acara Europe On Screen 2010, Festival Film Eropa 2010.
Esok paginya, adikku bertanya mengenai STNK tersebut. "Di kantong celana," ucapku singkat karena masih terkantuk-kantuk.
"Dimana? nggak ada!" ucapnya panas.

Setelah mencari-cari kesana kemari, hingga lemari dan kulkas ku jamahi, tetap tidak ada. Aku pasrah, hilang sudah. Nampaknya terjatuh saat aku memasukkan ke dalam kantong celana. Aku pun langsung ke kampus, untuk menanyakan STNK yang hilang kepada petugas parkir. Tetap saja hasilnya nihil. Esok harinya, aku ke Goethe Haus, untuk menanyakan STNK kepada petugas keamanan, tetap, NOL besar.

Innocent, malam harinya, adikku menemukan STNK di dalam box motor. Padahal, aku sudah mengecek ke dalam box motor, dan tidak ada disana. Lalu kok bisa ada disana?

Aku tersenyum simpul, aku ingat, baru beberapa menit yang lalu, mengikuti Istigosah Akbar di Istiqlal, berdoa untuk kedamaian indonesia. Disana pun, aku diminta Majelis Rasulullah untuk menjadi fotografer, mengabadikan moment bersejarah ini. Aku Iklahs, untuk dakwah Rasulullah SAW. Lalu, seusai solat magrib, aku mengutarakan doa (doa yang harus spesifik lihat: http://worldabhie.blogspot.com/2010/05/doa-adalah-mata-pedang.html )
dan dilanjutkan membaca surat cinta dariNya, Al Quranul karim.

Bagaimana mungkin, STNK si Jambul berada di box motor? Padahal aku sudah mengeceknya, dan ingat kalau STNK itu aku masukkan ke dalam kantong celana. Hal yang tidak mungkin itulah yang menjadi mungkin bagiku, ketika mengetahui kebesaranNya.

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:"Jadilah!" maka terjadilah ia. (QS. 36:82)

KIsah Masa Kecil Para Nabi: Dari Kecil Hingga Dewasa







Kisah Pilihan Para Nabi: Dari Kecil Hingga Dewasa
Penerbit: Tiga Serangkai
Terbit: Oktober 2010



Kisah para nabi merupakan kisah paling penting dalam sejarah manusia. Siapapun ingin menyimak kehidupan mereka. Mengenal kemuliaan mereka. Terlebih, meniru keagungan perilaku mereka.
Dalam buku ini dijelaskan, seputar sejarah, sifat, karakteristik dan perilaku 10 nabi pilihan pada waktu kecil hingga masa kenabian. Dilengkapi dengan ilustrasi yang imajinatif menjadikan buku ini ,mudah dipahami oleh anak-anak.
Mengapa hanya 10 nabi?
Supaya dapat mengupas kisah mereka lebih menyeluruh dan lengkap. Tentunya pembaca lebih fokus dalam memahami setiap dari kisah yang dipaparkan.

Senin, 20 September 2010

Tanpa “Cinta Ini” Mungkin Aku Sudah Gila (GILA#1)


Sejauh ini, selama aku hidup, banyak sekali masalah yang ku hadapi, mulai dari masalah pergaulan, akademis, percintaan, keluarga, himpitan ekonomi, kebengisan kaum borjuis, hingga ketidakadilan yang terus menimpa diriku. Mungkin bukan hanya aku yang memiliki segudang kegelisahan, mungkin juga, masalahku adalah partikel kecil dari luasnya samudra lautan bagi Anda atau orang lain.

Ya, Alhamdulillah sampai saat ini aku masih mampu bertahan. Tidak seperti beberapa orang belakangan ini, yang mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya, yakni meminum racun, dan bunuh diri. Namun secara logika, apakah dengan bunuh diri masalah akan selesai? Tentunya malah menambah masalah, belum lagi azab yang diterima? Nauzubillah, jangan sampai seperti itu.

Banyak hal yang membuatku untuk selalu bertahan hidup di tengah terpaan badai masalah yang selalu menghantam. Salah satunya, dan yang menurutku paling ampuh, ialah dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tanpa cinta mereka, mungkin aku sudah gila, ataupun mati konyol, bunuh diri!

Terkadang, suatu kesalahan kita adalah, memaknai ibadah dengan “takut” bukan “cinta” kepada-Nya. Takut akan azab neraka, takut akan dosa, dan lainnya. Ya, memang takut mampu memotivasi kita untuk berbuat lebih baik. Namun, menurutku takut berada di barisan kedua, ataupun ketiga, tentunya setelah cinta. Ya, dengan cinta kita mampu menghargai dan menyayangi orang lain.

Rasionalisasinya, apa yang akan Anda perbuat terhadap wanita yang Anda cintai? Tentunya Anda akan melakukan apapun agar kekasih hati Anda tidak kecewa dengan Anda. Bahkan sering terucap, “Jika aku memiliki sayap, aku akan terbang ke langit, membawakan bulan untukmu!” Ya memang, kita sering dibutakan oleh cinta semu, yang membuat cinta kita kepada kekasih, melebihi cinta kita kepada Allah, Sang Maha Tunggal, pemilik tubuh lemah ini. Padahal Allah selalu mencintai kita setiap saat, tapi kita malah sering melupakan segala kenikmatan yang telah dipinjamkan-Nya kepada kita.

Allah selalu membuka pintu bagi para hamba-Nya yang selalu ingin dekat dengannya. Tanpa mengenal status, jabatan ataupun siapa ayahmu. Ya, sekali lagi, kita-nya saja yang salah, selalu menolak lamaran cinta-Nya Allah. Coba bayangkan, jika Allah mencintai kita, apapun akan diberikan kepada kita, agar kita selalu dekat dengan-Nya. Seperti, kekasih Allah, Muhammad SAW yang diberikan kewengan atas kemustajaban doa dan ucapan-Nya. Tentunya kita tidak bisa sempurna Nabi Muhammad, namun setidaknya kita harus menggapai cinta-Nya Allah walaupun seujung kuku. Apakah kita tidak bisa?

Pertanyaan besar terhunus kepadaku, “Dengan apa?”

Salah satunya, dengan membaca dan menjawab surat cinta-Nya, ingatkah kalian 14 abad lalu Allah mengirimkan surat cintanya bagi hamba-Nya melalui Muhammad SAW? Maka ambillah dan jawablah surat cinta-Nya itu, maka Ia pun akan luluh dengan kita. Walaupu Allah juga memiliki hari pembalasan, namun sesungguhnya cinta dan kasih sayangnya Allah melebihi murka-Nya. Maka lantunkanlah surat cinta dari-Nya. Sesungguhnya di dalam surat cinta-Nya itu terdapat segala petunjuk yang menuntun kita kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Disaat aku gundah, aku terjatuh dan aku terjerembab dalam lubang kemaksiatan dan terjerembab lagi. Maka tak henti-hentinya selalu ku panggil nama-Nya, mencurahkan isi hati kepadanya. Maka air mata ini pun luluh dengan kecintaan terhdap-Nya, mengalir ikhlas tanpa paksaan dan mengalir lembut tanpa dorongan. Bahkan seorang lelaki gagah, pemenang juara olahraga sekalipun akan luluh dengan mengingat cinta dan keagungan Dirinya.

Taubat, mungkin salah satu solusinya. Ya, menurutku tobat merupakan salah satu refleksi dari cinta kita kepada Allah. Dengan bertaubat Insya Allah kita akan menjadi fitrah kembali. Namun, melihat sisi manusia yang tak pernah luput dari kekhilafan terkadang membuat kita frustasi dengan taubat kita sendiri, sehingga memilih jalan pintas yang ngawur. Lalu, apakah dengan melihat sisi manusia, lantas kita enggan untuk bertaubat, dengan dalih “Nanti saja kalau sudah tua!” atau, “Ah saya sudah bosan bertaubat, nanti juga saya terjerumus kembali ke dalam lubang yang sama!”

Satu hal yang ingin saya garisbawahi, tolong jangan menghakimi Allah dan diri Anda dengan kalimat-kalimat seperti itu. Jujur, aku pun sempat frustasi dengan taubat yang aku lakukan. Namun ketika kembali mengingat ceramah guruku, aku kembali bangkit. Ingatlah Allah Maha Pengasih, Maha Pengampun dan Maha Mengetahui hal yang terbaik bagi hamba-hamba yang dicintai-Nya. Bahkan sebuah dosa pun, dapat berubah menjadi pahala, apabila kita menghendakinya.

“Kecuali mereka yg bertobat, beriman, dan beramal shalih, maka bagi mereka Allah gantikan dosa dosanya dengan pahala” (QS Al Furqan 70).

Lihat! Betapa cintanya Allah kepada umat Sayidina Muhammad. Maka, bertaubatlah hari ini, lalu serahkanlah hari esok kepada-Nya. Sebab Dialah yang Maha Mengetahui segalanya, kita sebagai hamba yang terbatas akan hari esok, diperintahkan untuk berusaha sampai pada detik yang berjalan. Taubatlah hari ini, jika esok kita kembali terjerumus, maka itulah jalan yang diberikan Allah. Namun kita jangan pasrah terhadap jalan itu, bisa jadi Allah menguji kita, atau sengaja memberikan cobaan seperti itu, agar kita senantiasa kembali ingat kepadanya. Dengan adanya dosa, maka kita akan selalu ingat kepadanya. Sebab terkadang, apabila kita merasa suci, aman dari dosa, maka kita enggan mengadahkan tangan kepada-Nya.

Sungguh sangat indah sekali tuntunan yang sampai kepadaku, tuntunan yang bermuara kepada Sayidina Muhammad SAW. Masihkan kita menolak lamaran cinta-Nya? Bahkan dengan segenggam cinta, Nabi Muhammad SAW mengajak kita untuk berjumpa dengan Allah.
Hadis riwayat Anas bin Malik Ra:

Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah Saw: Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah SAW bersabda: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Saw bersabda: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai. (Shahih Muslim No.4775)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud Ra, ia berkata:
Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun dia belum dapat bertemu dengan mereka? Rasulullah SAW menjawab: Seorang akan bersama orang yang dicintai. (Shahih Muslim No.4779)

“Seseorang bersama orang yang dicintainya.” Ya, jika kita mencintai Allah dan Rasul-nya, maka Insya Allah, kelak kita akan bersamanya, Amin!

(Tulisan ini penulis persembahkan untuk penulis sendiri khususnya dan khalayak umum. Dengan adanya tulisan ini bukan berarti aku telah mempraktikan semuanya, belum! Curhatan ini sengaja aku jadikan sebuah karya, agar kata-kata ini terus hidup walaupun aku telah tiada. Sebagai sarana pengingat dan obat bagi diriku sendiri apabila aku sedang terpuruk. Tulisan ini adalah sebuah pengalaman spiritual diriku, yang ku peroleh ilmunya dari Guru Mulia Al Habib Munzir Al Musawa, pimpinan Majelis Rasulullah SAW. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi motivasi bagi diriku dan khalayak umum untuk menggapai cinta-Nya. Segala kebenaran hanya datang dari Allah, jika salah tentunya itu dari penulis. Aku bukanlah orang alim, aku bukanlah orang suci dan aku bukanlah seorang ulama, melainkan akulah sang pendosa yang selalu berusaha menggapai cinta-Nya!*FF)