Blog Kita dalam Massa

Farabi Ferdiansyah
Pegiat ilmu komunikasi praktis. Tertarik dengan dunia kreatif, sastra, jurnalistik, fotografi dan broadcasting!

Jumat, 31 Agustus 2012

Apresiasi Kota Seni Fisip UI

Di bawah ini adalah karya-karya sastra yang lolos seleksi dan dipamerkan dalam perhelatan Kota Seni Fisip UI, Kampus UI Depok, yang memamerkan Foto, Video, Mural, Foto, Sasta, Ilustrasi, Lukis:



sastra: KARYA SASTRA LOLOS SELEKSI

1. Awal seorang penyair- alfi Syahriani

2. Soulchip (cerpen)- gilang satria perdana

3. Rasa sopir angkot (flashfiction)- gilang satria perdana

4. Presiden (cerpen)- alfi syahriani

5. Setahun yang beda- siti zulaikhah

6. Pahlawan penamu lebih tajam dari pedang (essai)-alfi syahriani

7. Hanya karena (prosa)- putri estiani

8. Syrup dan tanteku (cerpen)- siti zulaikhah

9. Catasthrope (cerpen) – alfi syahriani

10. Akulah si tanpa nama(cerpen)- Cecilia gandes

11. Bapakkku sekarang sangat pendiam (cerpen)- Cecilia gandes

12. Mamaku yang bodoh (cerpen) –cecilia gandes

13. Sejuta impian kan ku gapai (cerpen)- gladistia putrid

14. Naïf (puisi)- Dave

15. SMA (puisi) – dave effendi

16. Kaulah seni (puisi) – teguh pribadi

17. Ikrar yang merdeka (puisi)- kristo baskoro

18. Tawa (puisi) – dave effendi

19. Memang salah, salah memang (puisi) patresia putrid

20. Purnama yang tidak lagi sempurna (prosa) – nanda marifani . S

21. Izinkan ku genggam hatimu sahabatku (prosa) – nanda marifani. S

22. Apa siapa (puisi) –rombe nuryanto

23. Berteriak memanggil namamu (sastra profetik) – farabi ferdiansyah

24. Hati (puisi)- farabi ferdiansyah

25. Kutunggu kau di kaki langit (puisi) – farabi ferdiansyah

26. Galau (puisi)- dave effendi

27. Cermin pertiwi (puisi) – nurjanah (anna noor)

28. Semata cahaya 1 (puisi) –nurjannah (anna nor)

29. Matahari (puisi) – sigit jaya herlambang

30. Semata cahaya 2 (puisi) nurjannah (anna nor)

31. Kinanti srikandi (puisi) – rombe nuryanto

32. Derita pahlawan devisa (puisi) – betania gian . R

33. Ibu pertiwi (puisi) – betania gian. R

34. Kepada tuan (puisi) – sri mulyati

35. Ketika langit berapi api (puisi) - hadi kurniawan

36. (jangan) pergi (lah) dariku –(puisi) – hadi kurniawan



Info lebih lanjut : Saras 08151612116
Sumber: Kota Seni Fisip UI

Minggu, 01 Juli 2012

2012 SUSI Begins at Ball State


The 2012 SUSI for Student Leaders on New Media in Journalism at Ball State University began Monday with a Welcome Breakfast attended by the SUSI participants from Indonesia, Malaysia and the Philippines, as well as Ball State faculty.

Roger Lavery, dean of the College of Communication, Information and Media, told the students he was honored they were on campus and hoped they would enjoy their time and studies at Ball State.

Classes and workshops for SUSI are based on a “News” curriculum developed jointly by faculty in the Departments of Journalism and Telecommunications that focuses on multi- platform storytelling and new media.

Students also heard remarks by Charles Payne, BSU assistant provost for diversity, who lectured on cultural differences that participants might encounter while in the United States.

The day also included a visit to the Student Recreation and Wellness Center, a walking tour of campus and a group picture at Beneficence, the bronze statue that has symbolized Ball State since the statue’s completion in 1937.
Source: http://summerpgm2.wordpress.com/2012/06/26/2012-susi-begins-at-ball-state/

Rabu, 09 Mei 2012

Tentang Tuhan Yang Maha Penyemburu

*Sebuah refleksi sastra profetik


Terkadang aku terlalu egois dengan Tuhan. Aku ingin memiliki Tuhan seorang diri, bercengkrama dan intim bersamaNya. Entah mengapa, aku ingin memilikinya seorang diri. Aku takut ada orang lain yang mengambil Tuhanku, dan mendapatkan dekapan hangat cintaNya.

Kuakui dialah Sang Pemilik Alam. Dia untuk seluruh makluk hidup, karena cintaNya mampu menghidupkan seisi bumi ini. Akh, terlalu naif dan egois sekali atas diriku jika selalu ingin intim denganNya. Padahal dengan saling berbagi dan berjalan bersama untuk meraih lamaran cintaNya itu merupakan hal yang sangat indah.

Ya, akupun frustasi dengan keegoisanku ini, frustasi untuk menjaga kemurnian cintaku kepadaNya. Sebagai makluk yang durjana ini, acapkali menyepelekan panggilan sayang dariNya. Selalu mengendap menjauh dan mendekati sesuatu yang membuatnya murka. Hufh, bar-barnya aku.

Betapa IndahNya Dia. Bukannya memutuskan cintaku dan menghujam diriku, membisikkan surga untuk menjauhi diriku dan meloby neraka untuk menempatkan diriku. Tapi Dia malah semakin memeluk erat diriku. Disaat aku berusaha menjauh, Dialah yang berusaha meyakiniku untuk tetap disisiNya. Perlahan ku tahu, Dialah Sang Maha Penyemburu.

Rasulullah Saw, Bersabda: “Tiada siapapun yang lebih penyemburu dari Allah, karena itulah Dia (Swt) melarang perbuatan jahat, yang terang terangan atau yang tersembunyi dan tiada siapapun yang lebih suka dipuji, selain Allah, oleh sebab itulah dia (Swt) memuji Dzat-Nya sendiri)” (Shahih Bukhari)

Ya, Dia menciptakan Neraka dan Dosa, merupakan refleksi atas cemburunya Ia kepada mereka yang berusaha menjauh. Dia menciptakan Dosa dan Neraka agar para pencintaNya tidak melakukan itu, walaupun sifatya abstrakis. Tentu karena ia tidak mau menunjukkan betapa cemburunya Dia kepada mahkluknya. Tapi Dia pun juga memberikan tempat yang layak kepada mereka yang tulus mencintainya, yakni Surga. Ya, nampaknya 99 (sembilan puluh sembilan) aji pamungkas namanya tidak akan sanggup melukiskan keindahan diriNya.

Terkadang dosalah yang membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, Allah sengaja memberikan kita dosa/keterpurukan agar kita kembali dekat denganNya! Janganlah ktia malah semakin menjauh, tapi kembalilah kepada sambutan hangat pelukan CintaNya” #FF #Sufism

Selasa, 08 Mei 2012

Komunitas Para Pecinta Rasulullah: Majelis Rasulullah SAW



Malu rasanya aku untuk menuliskan ini. Tapi jujur aku bangga berada disisi mereka, bangga memegang bendera Majelis Rasulullah, ya walaupun kadang karung dosa ini tak layak menganggap dirinya bagian dari komunitas pecinta para Rasulullah. Aku tidak suci, aku kotor, dan aku labil. Tapi aku butuh asupan spiritual itu. Butuh untuk menyetarakan kehidupan dunia dan akhirat yang penuh godaan ini. Kebutuhan itulah yang tidak menyurutkan aku, si Pendosa untuk berusaha kembali menyambut lamaran cintaNya.

Haru dan salut untuk guru kami Al Habib Munzir Al Musawa yang telah mempertemukan segala golongan (dari yang terkecil hingga strata tertinggi) berkumpul dalam naungan cinta kepada Allah dan Rasul-nya. Sosok semangat guru yang arif, zuhud, tawadhu, dan sastrawi inilah yang membuat kami bersatu untuk menyokongnya.

Suara sumbang tentang Majelis Rasulullah pun acapkali terdengar. Tapi toh, komunitas ini tetap berdiri tegak. Hey Dude, kalian yang tidak pernah merasakan gemuruh MR, dewasalah, janganlah pandang kami sebelah mata. Biang macet-lah, bid’ah, ugal ugalan, anarkis, dan tidak logis. Siapa bilang anggota majelis kesemuanya anak labil dan ingin sok-sokan. Hadeuuhhh

Rasuki, dan rasakan atmosfirnya, you’ll get some sufism in there! Dan, disinilah kau akan merasakan persaudaraan yang terikat erat karena cinta kepada Allah dan Rasul-nya. Pernah, aku melihat sosok lelaki paruh baya, dengan memakai kaca mata tebal, dan dengan perawakan yang tidak seperti yang lainnya. Setiap minggu, aku hampir bertemu dengannya, kulihat, beliau begitu arif dan supel. Kepada siapapun dia menyapa. Dan akupun berfikir, siapa dia?

Jawabannya kutemui saat aku berkunjung ke wilayah Kuningan, Mampang. Kulihat dengan seksama ia sedang membawa beberapa koran, dan menjajakannya dari pintu ke pintu. Aih, aku pun merasa haru bangga, ternyata sosok yang selalu kuperhatikan (bahkan sampai aku candid untuk memotretnya) adalah seorang kakek (mungkin) yang berprofesi sebagai penjaja koran. Aku terharu, karena diusianya yang renta dan berjalan menyeret pelan, tapi ia sangat bersemangat untuk menghadiri undangan Sang Illahi.


Di sisi lain, selain orang hebat itu, aku pun juga menemukan orang hebat lainnya dalam naungan yang katanya berisi orang orang yang sok-sokan. Kuulangi, banyak orang hebat didalamnya. Siapa sangka perkumpulan yang katanya selalu membuat macet acapkali diisi pelaku pengangguran yang tidak punya kerjaan. Tahukah kalian, banyak sekali jamaah yang datang masih berpakaian kerja. Para eksekutif muda itu menyempatkan dirinya setelah kerja untuk merasakan kenikmatan spiritual yang ada di dalamnya. Ya, mereka pun ahli dari berbagai disiplin ilmu (Pendidikan, Finance, Perpajakan, Komunikasi, Teknik Sipil, Teknisi, IT, Design, Ekonomi, Pekerja seni, Aktivis, dll), paham teknologi, dan banyak mahasiswa/lulusan dari berbagai perguruan tinggi berpotensial (UI, UGM, STAN, UNJ, UIN, PNJ, Gundar, Interstudy, YAI, Binus, dll). Siapa sangka majelis yang katanya selalu meresahkan itu sering dikunjungi Presiden, mentri ataupun pejabat negeri ini untuk memenuhi undangan Sang Illahi.


Belum lagi para jamaahnya bersatu untuk memperbaiki citra majelis taklim dengan mengkampanyekan menggunakan helm, safety riding saat berkendara. Salah satu jamaahnya pun ada yang sedang merumput title S3 di Harvard University, USA. Dan, sempat professor dari Jepang yang ikut menyemarakkan keberagaman di dalam naungan Komunitas Para Pecinta Rasulullah ini. Jamaah MR jumlahnya jutaan, tersebar hingga ke pelosok Papua, Malaysia dan Singapura.


Bukan untuk membanggakan yang berlebihan, tapi tulisan ini dibuat untuk menyeimbangi suara sumbang yang terus mengernyitkan dahi kami. Hingga terkadang banyak para jamaah yang sengaja menutupi bahwa mereka jamaah MR, karena takut dicap yang tidak-tidak, atau dipecat dari pekerjaannya.


Terkadang dosalah yang membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, Allah sengaja memberikan kita dosa/keterpurukan agar kita kembali dekat denganNya! Janganlah ktia malah semakin menjauh, tapi kembalilah kepada sambutan hangat pelukan CintaNya! Karena dialah Sang Maha Penyemburu!” #FF #Sufism