Blog Kita dalam Massa

Farabi Ferdiansyah
Pegiat ilmu komunikasi praktis. Tertarik dengan dunia kreatif, sastra, jurnalistik, fotografi dan broadcasting!

Rabu, 11 April 2012



By@Photography merupakan pelopor konsep Islamic Photography di Indonesia, mungkin di dunia. Sejak kemunculannya pertengahan tahun (Juni) 2009, By@Photography berusaha mengembangkan foto yang mengandung unsur positif, kritik sosial budaya dan human interest. Maka kami pun berusaha mengembangkan konsep foto tersebut menjadi kesatuan yang epik. Yang dapat memberikan stimulus positif bagi masyarakatnya.

Foto yang baik tentunya akan menimbulkan hal yang baik. Misalnya, foto para Sahabat Nabi, para ulama, ataupun tempat ibadah (Mekah, dll) yang apabila melihat foto tersebut, merasa sejuk ataupun meningkatkan gairah keimanan. Maka foto tersebut membawa kebaikan, begitu pun dengan fotografernya, insya Allah akan mendapatkan pahala.

Namun, modernisasi seperti ini, banyak kalangan yang merasa enggan dengan Islam, karena melulu menyoalkan masalah teroris, jihad dan hijab. Tentunya padangan seperti itu akan menjauhkan eksistensi Islam pada umumnya. Selain itu, banyak kalangan yang sinis terhadap seni. Karena dianggap selalu bertentangan dengan nilai agama.
Saat dunia berlari, kita masih sibuk mengecangkan ikat pinggang. Saat dunia sudah berikir kreatif, kita masih berfikir konservatif. Saat dunia mulai diguncang, kita masih debat kusir antara jihad dan teroris. Saat dunia mulai terbang dengan pesawat, kita masih memperdebatkan cara membuat pesawat kertas yang baik! Hey, Dude, come on sudah saatnya kita tidak lagi debat kusir yang tentunya akan membawa kita kedalam posisi statis dan jatuh dramatis!

Akh, kami pun merasa resah dengan munculnya argumtasi argumentasi seperti itu. Karena tentunya hal itu akan mendeskreditkan Islam. Dan menjauhkan Islam dari mereka yang ingin dan mau belajar agama rahmatan lil alamin. Saatnya kita berfikir kreatif, bagaimana menjadikan sesuatu yang menarik dan juga bermanfaat bagi kita khususnya, dan bagi masyarakat umumnya. Karenanya kami pun berusaha menjembatani antara unsur Islam, seni, etika dan kehidupan sehari hari. Kami mencari rumusan proporsional yang tentunya tidak mengganggu esesnsi Islam itu sendiri.

Etika! Ya, kami merumuskan Islamic Photography dengan menjunjung tinggi etika. Etika berbicara tentang ‘pantas atau tidak pantas’ kah seseorang dalam mempublikasikan sebuah fotonya. Disinilah kami menemukan rumusan eksentrik yang mampu mengkolaborasikan antara Islam, seni, etika dan kehidupan sehari hari. Dimana keempatnya saling besinergi, tidak saling bersebrangan dan tidak saling menghujam.

Jadi, tidak melulu foto Islam tentang masjid, orang solat, orang berhijab, ibu-ibu pengajian majelis taklim ataupun lainnya. Melainkan kami memotret aktifitas mereka yang ‘baik dan pantas’ yang mampu menyiratkan unsur keislaman, sosial, budaya, kehidupan sehari-hari ataupun unsur sufistik. Kami pun berusaha tidak membatasi Islam yang luas nan begitu indah menjadi seonggok kayu yang dapat dijadikan boomerang.

Kami tahu, wacana Islamic Photography telah muncul telah lama. Tapi kami yakin, hanya By@Photography yang memiliki konsep Islamic Photography seperti ini, yang mampu mengkolaborasikan dan mensinergikan antara Islam, seni, etika dan kegiatan sehari hari. Bukan hanya sebatas words ‘Islam’ saja. Dan bukan berarti objek yang kami abadikan harus serta merta ber-KTP Islam. Kami pun berusaha merangkul ‘Harmony In Diversity’ dengan yang lainnya, merangkul keharmonisan dalam perbedaan. Dan tetap menjunjung tinggi lakum dinukum waliyadin.

Salam Hangat,
Farabi Ferdiansyah


By@Photography
Aby: 0856-9281-6135
Info.by_photography@yahoo.com
FB: By@Photography || Twitter: @By_Photography

Kamis, 19 Januari 2012

Wabah Kleptokrasi, Krisis Moral dan Etika Politik

Suatu warisan yang tak kunjung putus nasabnya dari ke tahun ke tahun untuk Indonesia adalah praktik korupsi.Banyak residu korupsi yang meninggalkan bercak hitam dari tahun ke tahun. Sebut saja kasus Gayus Tambunan yang tidak pernah terungkap big fish-nya, kasus Nazaruddin yang semakin pelik, dan kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Miranda Goeltom yang sudah berjalan lebih dari lima tahun tak kunjung usai. Kasus-kasus tersebut tak kunjung tuntas karena melibatkan para petinggi negeri ini.Banyaknya campur tangan elit politik dan persekongkolan partai politik merupakan refleksi atas nyatanya praktik kleptokrasi di Indonesia.

Ada dua kemungkinan pemicu terjadinya praktik kleptokrasi yang hampir membudaya ini. Pertama, krisis moral dan etika berpolitik yang buruk.Moral biasanya dikaitkan dengan sistem/ nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik.Tentunya untuk memiliki moral baik, seseorang harus memahami ajaran agama yang dianutnya dan tahu betul identitas budayanya. Kedua, etika politik. Etika membantu manusia untuk mengambil sikap, bertindak secara tepat guna dan bermanfaat.

Mengintisarikan pendapat Dr Haryatmoko, etika politik tidak lain upaya mendorong terciptanya kehidupan harmonis antarsesama, bebas dalam membangun institusi yang adil.Bebas di sini dimaksudkan untuk mendorong terciptanya sikap kritis dan menjamin terciptanya democraticliberties,kebebasan berpendapat,kebebasan pers,dan lainnya.

Menurut Paul Ricoeur,etika politik bertujuan untuk kehidupan bersama dan untuk orang lain, dalam rangka lingkup kebebasan, dalam rangka membangun institusi-institusi yang adil (1990). Etika politik bukanlah sarana perjuangan primordialitas, tetapi penjamin kebaikan untuk sesama.

Dengan begitu, etika politik mendorong terciptanya cinta pada sebuah dimensi publik, di mana saling melihat satu sama lain, bukan sebagai musuh, melainkan subjek politik yang setara,guna menciptakan stabilitas politik yang mapan.

Kedua hal ini tentu akan menjadi suatu pekerjaan rumah yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Moral dan etika tidak terbentuk secara instan,tapi membutuhkan suatu proses evolutif, di mana dukungan keluarga, lingkungan, agama, dan budaya saling terkait untuk menciptakan suatu moral dan etika yang mapan.

Dengan memiliki moral dan etika berpolitik yang mapan, seseorang akan mampu membawa pemerintahan ini dengan bijak, adil,dan antikorupsi.

*Tulisan ini dimuat di Koran Seputar Indonesia tanggal 27 Desember 2011.


Farabi Ferdiansyah
Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta
Peneliti di Komunitas Djuanda,
Pembelajaran media sosial bagi masyarakat Tangerang Selatan

Kamis, 12 Januari 2012

Sajak Revolusi Negeri Autopilot



Singkat saja. Negeri ini layaknya negeri yang tidak ada pemimpin. Jika diibaratkan dengan pesawat, maka pesawat ini dijalankan dengan autopiliot (pengaturan otomatis), artinya tidak ada pilot (pemimpin) yang menjalankan pesawat. Hal ini tentunya sangat membahayakan para penumpang (Rakyat) di dalam pesawat. Sebab, saat adanya badai, ataupun cuaca buruk tidak ada pilot yang dapat mengendalikan pesawat dengan baik. Padahal sekarang ini banyak sekali badai (kasus) yang sedang menerpa pesawat (negara). Ya, hanya tinggal menunggu waktu kapan pesawat itu akan mengalami kejatuhan (crash landing).

Padahal seperti yang dketahui bahwa pesawat (negara) ini ada pilotnya (pemimpin). Tapi, kok seperti (autopilot) tidak ada pemimpin? Beragam badai (kasus) terus berlalu begitu saja,tanpa dihadapi ataupun ditaklukkan. Ya, maka maskapai pemilik pesawat (mahasiswa, stake holder) dan penumpang harus segera melalukan inovasi yakni mendesak pilot untuk melakukan pendaratan darurat. Jika tidak pastinya, pesawat akan mengalami crash landing (terjatuh).

Permasalahannya pilot tersebut nampak tidak sadar bahwa pesawatnya sedang diterpa beragam badai serta cuaca buruk. Padahal, pilihannya hanya dua, pilot tersebut mengundurkan diri, atau adanya gerakan revolusi dari para stake holder (mahasiswa) dan para penumpang (rakyat) untuk menurunkan pilot/pesawat untuk mendarat darurat.

Epilog: Tulisan ini dibuat setelah penulis menonton program acara Sarah Sehan Anak Negeri di Metro TV, yang kali ini mengangkat tema, Selamatkan Negeri Autopilot.