Blog Kita dalam Massa

Farabi Ferdiansyah
Pegiat ilmu komunikasi praktis. Tertarik dengan dunia kreatif, sastra, jurnalistik, fotografi dan broadcasting!

Jumat, 09 April 2010

Tiga Jam Di Masjid Fatullah





Tiga Jam di Masjid Fathullah

Kali ini aku ingin bertafakur (merenung) tentang kekuasaan Tuhan, Sang Maha Pencipta. Itulah alasan aku sudah berada di masjid Fatullah UIN Syarif Hidayatullah. Pukul 11.30 (12/03), dan langsung duduk di shaf (barisan) pertama. Aku ingin merenungi kata demi kata Kalsum Minangsih, dosen mata kuliah Ilmu Dakwah 2, yang baru saja usai pada pukul 09.30. Kata-katanya menyentuh hatiku, diam-diam saat ia mengajar air mataku pun berlinang, tapi aku tidak mau menumpahkan air mataku, aku takut kejantananku diremehkan oleh teman-temanku, karena saat itu aku berada di dalam kelas. Dosenku itu bercerita mengenai hakekat kita sebagai manusia, segala penciptaan alam dan seisinya. Wa ma yatafakkarun (apakah kamu memikirkan?) atas apa yang telah Tuhan cipatakan dan berikan kepada kita. “Beh…” itulah kata-kata yang terus mebayangi otakku setelah aku keluar kelasnya.

Setelah aku merenungi segala sesuatu yang ada di dalam diriku dan di sekitarku. Benar saja, air mataku pun mengalir begitu saja, aku tidak bisa membendungnya, mengalir ikhlas dari sudut kedua mataku. Aku menyadari betapa kafir dan kufurnya diriku, selalu menghianati-Nya, salalu mencaci-Nya dan selalu kufur nikmat (tidak mensyukuri atas segala nikmatnya). Asma-asma Allah terus aku kumandangakan dari bibirku. Pelan tapi bibirku bergetar, laksana berteriak sekuat tenaga. Kalimatnya hanya beberapa huruf saja, namun bisa menggetarkan hatiku dan bibirku serta meruntuhkan sifat sombong dan sok jantan diriku. Jujur saja kawan, semenjak diriku menginjak usia dewasa, aku sudah tidak lagi menangis karena masalah pacar, sekolah ataupun masalah keluarga. Kini air mataku hanya mengalir ketika aku mengadu dengan Tuhanku. Entah mengapa air mata ini mengalir begitu saja, tidak bisa dibendung lagi jika dihadapkan kepada-Nya. Betapa agungnya nama-nama-Mu wahai Rabb. Aku teringat hadis Nabi Muhammad SAW yang intinya, salah satu dari tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah adalah menyebut nama Allah dan bergetir bibirnya.

Suara mengaji dari speaker masjid terus menyelimuti hatiku, bisikan kalimat Illahi itu semakin membuatku hikmad dan nyaman. Aku tidak memperdulikan lagi sekitarku, apakah mereka terganggu dengan isak tangisku atau terganggu karena aku berisik. Biarlah mereka mencercaku, menghinaku atau memfitnahku “sok alim’. Tapi aku benar-benar merasakan kedamaian dalam hatiku, merasakan kesejukan, merasakan nikmatnya iman dan menyadari bahwa kekuasaaNya Maha Dahsyat.

Khotib naik mimbar, tandanya sudah waktunya azan salat Jumat, menyeru untuk para muslimin mempercepat langkahnya ke masjid karena khotib akan berceramah (khotbah Jumat). Isakku terhenti ketika azan Jumat akan berkumandang. Aku mengelap air mata yang membasahi pipiku dan sebagian telah jatuh mambasahi bajuku.

Lagi dan lagi, itulah kata yang terlontar dalam hatiku ketika mendengar khotbah Jumat yang dibawakan oleh seorang Profesor yang ilmunya diatas rata-rata. Inti ceramahnya hampir sama seperti Bu Kalsum Minangsih, ia menyeru agar segala aspek ilmu pengetahuan seharusnya di kolaborasikan (dibarengi) oleh hukum Islam. Jangan memisahkan aspek ilmu dengan agama, maka yang akan terjadi adalah kesenjangan sosial dan kemudharatan. Lalu di akhir khotbahnya khotib menyeru kepada umat muslimin untuk berfikir luas mengenai keislaman, tapi tanpa melangar syariat Islam. Itulah batasan-batasan yang harus kita pegang teguh ketika kita mengembangkan pola pikir keislaman, jika tidak kita akan kafir.

Seusai salat Jumat, ada pengumuman yang menyatakan, “Tabligh akbar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan yang berceramah adalah Ustad Yusuf Mansur.”
Wow, ada Maulid Nabi Muhammad SAW, sang idola dan pahlawanku. Aku pun mengikhlaskan diri untuk duduk lebih lama lagi di dalam masjid. Seusai berdoa, baner di bentangkan, para jamaah merapat dan membuat barisan.
Ustad Yusuf Mansur adalah da’i kondang yang sudah melintang ke bergbagai media nasional, maka namanya sangat popular di kalangan umat muslim. Ustad Yusuf Mansur sangat terkenal sekali dengan ceramah “sedekah”. Ceramah itulah yang terus menyentuh hati para umat muslim untuk terus bersedakah dan saling berbagi satu sama lain.

Dalam ceramahnya Ustad Yusuf Mansur menyinggung pondok pesantrenya, pondok pesantren yang akan mencetak para penghafal Al-Quran, dan memberikan trik untuk dapat cepat menghafal. Tawa canda menyelingi ceramah da’i kondang tersebut, sesekali ustad Yusuf Mansur memperagakan gerakan-gerakan yang aneh dan lucu. Inti ceramahnya adalah untuk mempermudah kita menghafal sesuatu, maka pergunakanlah (menyelingi) di setiap aktifitas kita, jangan harus memfokuskan menghafal mengurung diri di dalam kamar ataupun masjid. Cara yang ampuh untuk mempercepat hafalan adalah dengan memberikan reward (penghargaan) kepada diri kita ataupun orang lain. Ustad Yusuf Mansur mencontohkan hal itu dengan kejadian nyata temannya sendiri yang bernama Helmi. Helmi memancing ketiga anaknya untuk menghafal surat Arrahman dengan memberikan makanan apabila dapat menghafal disetiap ayatnya. Semakin banyak ayatnya maka semakin enak makanannya. Unik memang, dan aku pun yakin cara itu sangat ampuh untuk memancing seseorang untuk terus menghafal dengan ketentuan apabila dapat menghafal akan mendapatkan hadiah.

Baterai imanku sudah terisi kembali, keimananku sedikit bertambah, namun yang aku takutkan apabila keimananku turun, karena keimanan seseorang dapat naik dan turun dalam waktu sepersekian detik. Aku menyadari keimananku mudah sekali goyah, apalagi bila dihadapakan dengan kaum hawa. Rasanya segala ilmu agama yang masuk ke dalam otakku, hilang seketika. Maksiat, itulah perbuatan yang mampu menghapus hafalan dan keimanan seseorang. Itulah yang sangat sulit untuk kita lawan, karena Nabi mengatakan, “Jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu.”

Tapi kawan jangan pesimis, jangan merasa dosa-dosa kita tidak akan di ampuni, Dia adalah Sang Maha Pengampun. Aku teringat ucapan Al Habib Munzir Bin Fuad Almusawa yang mengatakan, “Jangan takut untuk bertobat, bertobatlan kalian untuk hari ini dan hari sebelumnya, apabila keesokan harinya kalian berbuat dosa lagi, itu kehendak yang Maha Kuasa, bertobatlah setiap saat, jangan sungkan untuk meminta maaf kepada-Nya, namun kita harus berusaha untuk lebih baik, serahkan nasibmu esok hari hanya kepada-Nya!”
Argggh! Rasanya aku ingin berteriak, meluapkan segala emosiku. Ya Rabb, aku ini memang bukan seperti kekasih-Mu (Muhammad SAW). Aku ini hanya makhluk yang tiada daya upaya untuk mencegah dosa. Aku hanya bisa terus memohon ampun pada-Mu, aku hanya bisa merengek kepada-Mu, aku hanya bisa mengharapkan belas kasihan-Mu. Ya Rabb! Hanya kepada-Mu lah aku menyembah dan hanya kepada-Mu lah aku memohon pertolongan.

Farabi Ferdiansyah