Blog Kita dalam Massa

Farabi Ferdiansyah
Pegiat ilmu komunikasi praktis. Tertarik dengan dunia kreatif, sastra, jurnalistik, fotografi dan broadcasting!

Senin, 20 September 2010

Tanpa “Cinta Ini” Mungkin Aku Sudah Gila (GILA#1)


Sejauh ini, selama aku hidup, banyak sekali masalah yang ku hadapi, mulai dari masalah pergaulan, akademis, percintaan, keluarga, himpitan ekonomi, kebengisan kaum borjuis, hingga ketidakadilan yang terus menimpa diriku. Mungkin bukan hanya aku yang memiliki segudang kegelisahan, mungkin juga, masalahku adalah partikel kecil dari luasnya samudra lautan bagi Anda atau orang lain.

Ya, Alhamdulillah sampai saat ini aku masih mampu bertahan. Tidak seperti beberapa orang belakangan ini, yang mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya, yakni meminum racun, dan bunuh diri. Namun secara logika, apakah dengan bunuh diri masalah akan selesai? Tentunya malah menambah masalah, belum lagi azab yang diterima? Nauzubillah, jangan sampai seperti itu.

Banyak hal yang membuatku untuk selalu bertahan hidup di tengah terpaan badai masalah yang selalu menghantam. Salah satunya, dan yang menurutku paling ampuh, ialah dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tanpa cinta mereka, mungkin aku sudah gila, ataupun mati konyol, bunuh diri!

Terkadang, suatu kesalahan kita adalah, memaknai ibadah dengan “takut” bukan “cinta” kepada-Nya. Takut akan azab neraka, takut akan dosa, dan lainnya. Ya, memang takut mampu memotivasi kita untuk berbuat lebih baik. Namun, menurutku takut berada di barisan kedua, ataupun ketiga, tentunya setelah cinta. Ya, dengan cinta kita mampu menghargai dan menyayangi orang lain.

Rasionalisasinya, apa yang akan Anda perbuat terhadap wanita yang Anda cintai? Tentunya Anda akan melakukan apapun agar kekasih hati Anda tidak kecewa dengan Anda. Bahkan sering terucap, “Jika aku memiliki sayap, aku akan terbang ke langit, membawakan bulan untukmu!” Ya memang, kita sering dibutakan oleh cinta semu, yang membuat cinta kita kepada kekasih, melebihi cinta kita kepada Allah, Sang Maha Tunggal, pemilik tubuh lemah ini. Padahal Allah selalu mencintai kita setiap saat, tapi kita malah sering melupakan segala kenikmatan yang telah dipinjamkan-Nya kepada kita.

Allah selalu membuka pintu bagi para hamba-Nya yang selalu ingin dekat dengannya. Tanpa mengenal status, jabatan ataupun siapa ayahmu. Ya, sekali lagi, kita-nya saja yang salah, selalu menolak lamaran cinta-Nya Allah. Coba bayangkan, jika Allah mencintai kita, apapun akan diberikan kepada kita, agar kita selalu dekat dengan-Nya. Seperti, kekasih Allah, Muhammad SAW yang diberikan kewengan atas kemustajaban doa dan ucapan-Nya. Tentunya kita tidak bisa sempurna Nabi Muhammad, namun setidaknya kita harus menggapai cinta-Nya Allah walaupun seujung kuku. Apakah kita tidak bisa?

Pertanyaan besar terhunus kepadaku, “Dengan apa?”

Salah satunya, dengan membaca dan menjawab surat cinta-Nya, ingatkah kalian 14 abad lalu Allah mengirimkan surat cintanya bagi hamba-Nya melalui Muhammad SAW? Maka ambillah dan jawablah surat cinta-Nya itu, maka Ia pun akan luluh dengan kita. Walaupu Allah juga memiliki hari pembalasan, namun sesungguhnya cinta dan kasih sayangnya Allah melebihi murka-Nya. Maka lantunkanlah surat cinta dari-Nya. Sesungguhnya di dalam surat cinta-Nya itu terdapat segala petunjuk yang menuntun kita kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Disaat aku gundah, aku terjatuh dan aku terjerembab dalam lubang kemaksiatan dan terjerembab lagi. Maka tak henti-hentinya selalu ku panggil nama-Nya, mencurahkan isi hati kepadanya. Maka air mata ini pun luluh dengan kecintaan terhdap-Nya, mengalir ikhlas tanpa paksaan dan mengalir lembut tanpa dorongan. Bahkan seorang lelaki gagah, pemenang juara olahraga sekalipun akan luluh dengan mengingat cinta dan keagungan Dirinya.

Taubat, mungkin salah satu solusinya. Ya, menurutku tobat merupakan salah satu refleksi dari cinta kita kepada Allah. Dengan bertaubat Insya Allah kita akan menjadi fitrah kembali. Namun, melihat sisi manusia yang tak pernah luput dari kekhilafan terkadang membuat kita frustasi dengan taubat kita sendiri, sehingga memilih jalan pintas yang ngawur. Lalu, apakah dengan melihat sisi manusia, lantas kita enggan untuk bertaubat, dengan dalih “Nanti saja kalau sudah tua!” atau, “Ah saya sudah bosan bertaubat, nanti juga saya terjerumus kembali ke dalam lubang yang sama!”

Satu hal yang ingin saya garisbawahi, tolong jangan menghakimi Allah dan diri Anda dengan kalimat-kalimat seperti itu. Jujur, aku pun sempat frustasi dengan taubat yang aku lakukan. Namun ketika kembali mengingat ceramah guruku, aku kembali bangkit. Ingatlah Allah Maha Pengasih, Maha Pengampun dan Maha Mengetahui hal yang terbaik bagi hamba-hamba yang dicintai-Nya. Bahkan sebuah dosa pun, dapat berubah menjadi pahala, apabila kita menghendakinya.

“Kecuali mereka yg bertobat, beriman, dan beramal shalih, maka bagi mereka Allah gantikan dosa dosanya dengan pahala” (QS Al Furqan 70).

Lihat! Betapa cintanya Allah kepada umat Sayidina Muhammad. Maka, bertaubatlah hari ini, lalu serahkanlah hari esok kepada-Nya. Sebab Dialah yang Maha Mengetahui segalanya, kita sebagai hamba yang terbatas akan hari esok, diperintahkan untuk berusaha sampai pada detik yang berjalan. Taubatlah hari ini, jika esok kita kembali terjerumus, maka itulah jalan yang diberikan Allah. Namun kita jangan pasrah terhadap jalan itu, bisa jadi Allah menguji kita, atau sengaja memberikan cobaan seperti itu, agar kita senantiasa kembali ingat kepadanya. Dengan adanya dosa, maka kita akan selalu ingat kepadanya. Sebab terkadang, apabila kita merasa suci, aman dari dosa, maka kita enggan mengadahkan tangan kepada-Nya.

Sungguh sangat indah sekali tuntunan yang sampai kepadaku, tuntunan yang bermuara kepada Sayidina Muhammad SAW. Masihkan kita menolak lamaran cinta-Nya? Bahkan dengan segenggam cinta, Nabi Muhammad SAW mengajak kita untuk berjumpa dengan Allah.
Hadis riwayat Anas bin Malik Ra:

Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah Saw: Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah SAW bersabda: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Saw bersabda: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai. (Shahih Muslim No.4775)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud Ra, ia berkata:
Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun dia belum dapat bertemu dengan mereka? Rasulullah SAW menjawab: Seorang akan bersama orang yang dicintai. (Shahih Muslim No.4779)

“Seseorang bersama orang yang dicintainya.” Ya, jika kita mencintai Allah dan Rasul-nya, maka Insya Allah, kelak kita akan bersamanya, Amin!

(Tulisan ini penulis persembahkan untuk penulis sendiri khususnya dan khalayak umum. Dengan adanya tulisan ini bukan berarti aku telah mempraktikan semuanya, belum! Curhatan ini sengaja aku jadikan sebuah karya, agar kata-kata ini terus hidup walaupun aku telah tiada. Sebagai sarana pengingat dan obat bagi diriku sendiri apabila aku sedang terpuruk. Tulisan ini adalah sebuah pengalaman spiritual diriku, yang ku peroleh ilmunya dari Guru Mulia Al Habib Munzir Al Musawa, pimpinan Majelis Rasulullah SAW. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi motivasi bagi diriku dan khalayak umum untuk menggapai cinta-Nya. Segala kebenaran hanya datang dari Allah, jika salah tentunya itu dari penulis. Aku bukanlah orang alim, aku bukanlah orang suci dan aku bukanlah seorang ulama, melainkan akulah sang pendosa yang selalu berusaha menggapai cinta-Nya!*FF)

Selasa, 14 September 2010

Rintihan Anak Bau Kencur

Arrrggghhh..! Sudah cukup! Aku bosan dengan ini semua! Aku harus bangkit! Percuma aku disekolahkan orangtuaku tingi-tinggi! Buat apa ijazahku kelak, apabila lingkungan sekitarku menderita karena ulah para orang berdompet tebal dan kaum borjuis.

Bagaimana tidak, apabila hujan mengguyur, sekejap lingkungan kami terendam banjir. Memang lingkungan rumahku kumuh dan merupakan daerah rawan banjir. Tapi dulu tidak seperti itu! Dahulu, sebelum gedung-gedung pencakar langit itu berdiri tegak, kami jarang sekali terkena banjir besar. Belum lagi kau pagari kali dengan tembok setinggi 5 meter lebih, agar luapan air tidak mengalir ke wilayah elit itu. Sekarang, hujan sebentar saja sudah mengenangi rumah kami. Seperti banjir lima tahunan, kami tidak perlu menunggu lima tahun untuk mengalami derita itu, tahun-tahun biasa pun, banjirnya tetap sama, berbeda sebelum bangunan itu berdiri tegak! Hari ini saja, ketinggian air di lingkunganku mencapai 1.9 meter (seleher orang dewasa)!




Dahulu, masih terekam jelas dibenakku, banyak sekali lahan luas, dua lapangan sepak bola, kebun dan sawah, yang menjadi kawasan peresapan air. Kini, semua berubah, tanah-tanah merah tempat kami berpijak, sudah menjadi beton-beton bangunan. Sejengkal tanah kali pun, kau urug untuk memperluas wilayah jajahan kau. Percuma! Ya, percuma, pemerintah selalu menggalakkan program ‘bio pori’ sebagai lubang peresapan air, yang tentunya akan mengurangi dampak banjir. Tapi buat apa! Seberapa besar apakah, diameter sebuah bio pori yang terbuat dari bambu atau peralon? Realita-nya tanah lapang, ratusan hektar dijadikan kawasan real estate, apartemen megah dan mall yang mewah.

Kemarin, tepat hari kemerdekaan 17 Agustus, rumah kami pun terendam banjir. Di hari, selayaknya kami berbahagia, mengangkat tangan ke arah kening, sambil mengumandangkan lagu Indonesia Raya, malah menjadi hari yang sangat ironis bagi kami. Banjir mengenangi rumah kami, kami terkungkung, dikelilingi air yang keruh, tanpa bantuan.



Apakah hanya banjir air keruh saja yang kami terima? Tidak! Setiap pasca banjir, kami selalu membersihkan lumpur-lumpur yang melekat pada tembok dan lantai rumah kami. Air kami pun ikut tercemar. Bahkan, banjir kali ini (14/09) sangat tragis sekali, sebab banyak tetanggaku yang mudik ke kampung, pintu rumahnya terkunci, sedangkan air itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Bayangkan! kasur empuk yang sering mereka tiduri kini tidak bisa terpakai lagi, karena sudah kotor. Kulkas dan barang-barang elektronik lainnya, mungkin sudah di daftarkan ke tukang loak untuk di jual per kilo, sebab sudah tidak dapat dipergunakan kembali.

Aku memang masih anak bau kencur, anak baru gede, kuliah pun belum lulus, tapi setidaknya tolong perhatikanlah lingkungan sekitar Anda, Wahai Pemilik Modal! Sebelum mendirikan bangunan, verifikasi terlebih dahulu Analisis dan Dampak Lingkungannya. Apakah menggangu ekosistem, lingkungan hidup atau tidak.

Tidak perlu para profesor untuk menganalisis itu, anak kecil dan nenek-nenek tua pun tahu, luapan air kali, tidak bisa masuk ke wilayahmu karena kau batasi dengan tembok yang menjulang tinggi! Sehingga luapan air yang seharusnya terbagi rata antara wilayah Kemang dan Cipete, kini dilimpahkan ke wilayah kami! Puluhan hektar yang dahulu menjadi wilayah resapan air, kini menjadi wilayah resapan rupiah! Ironis? Memang!



Sejak lama, aku ingin berteriak di toa-toa (pengeras suara) Mushollah, meneriakkan, panji-panji kemerdekaan yang telah terinjak-injak. Tapi, aku merasa belum yakin, karena aku hanyalah anak bau kencur dan tidak memiliki pendamping yang kuat. Aku mohon! Aku mohon! Para kompasianer, para blogger, para petinggi, para jurnalis, para aparatur pemerintah, para pemilik modal yang membaca tulisan ini! Bantulah kami, perjuangkanlah hak kami.



Rumahku, berada di keluarah Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepat di samping kami, berdiri tegak kawasan mewah nan megah, “kem-ang pileg”. Mungkin mereka akan tertawa melihat kami yang sedang menderita, dari atas gedung yang menjulang tinggi itu.


Cipete Utara, 14 September
Farabi Ferdiansyah

Kamis, 09 September 2010

Saling berbagi di Bulan yang Fitri









Keluarga Besar Farabi Ferdiansyah, Segenap Management By@Photography, dan Sevenlines, Mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin